Sunday, September 9, 2018

Rating mengalahkan Kualitas acara televisi


Pada kesempatan ini gw ingin bahas mengenai rating mengalahkan kualitas acara televisi. apa sih itu rating. menurut remotivi rating adalah persentase dari jumlah orang yang menonton acara televisi dalam sebuah populasi. Populasi yang dimaksud adalah total sample yang dipilih oleh nielsen berdasarkan karakteristik demografis antara lain area geografis, kelas sosial, ekonomi, gender. Selain rating, perlu juga diketahui sodara sekandungnya sendiri yaitu share. Share adalah perbandingan dari jumlah penonton suatu acara televisi terhadap total orang yang sedang menonton televisi pada saat bersamaan. Share ini biasanya dipakai untuk menilai performa suatu acara terhadap program-program di saluran tv lain yang tayang pada waktu yang sama.  Nielsen selaku lembaga riset rating acara tidak menghitung seluruh penonton di indonesia karena tentu cost nya lebih mahal. Banyak dari berbagai kalangan yang protes akan riset dari lembaga tersebut, dimana data riset tersebut tidak bisa mewakili banyaknya penduduk di indonesia. Pada akhirnya karena adanya ketidakpuasan tersebut, banyak dari pihak televisi yang membuat lembaga sejenis nielsen, tetapi pada realitanya ya sama juga seperti pendahulunya.

Kembali lagi ke pembahasa sebelumnya, Kualitas acara di televisi khususnya televisi nasional FTA, hampir kebanyakan sangat memprihatinkan. Dimana mereka hanyak memikirkan banyaknya iklan yang masuk daripada kualitas konten acara yang ditonton. Banyak dari televisi nasional yang menanggalkan kualitas acara mereka demi mengeduk untung besar. Pada akhirnya banyak acara sejenis yang bermunculan diberbagai televisi. Seperti mulai dari yang  pertama, acara sinetron yang berepisode begitu panjang dan ceritanya begitu komplikasi




Ketiga sinetron ini menceritakan berbagai kehidupan sehari-hari. dimana tidak ada isi dan manfaanya dan ceritanya tidak tersubject dengan satu penokohan saja. yang mana alur dari ceritanya seperti tidak berujung. herannya penonton nya masih banyak sampai-sampai mereka sering melakukan acara gathering / jumpa fans. 



Kedua, acara audisi pencari bintang / biduang dangdut baru. Acara ini pada awalnya mencari penyanyi dangdut yang fresh. Akan tetapi pada akhirnya, kita sebagai penonton hanya disuguhi oleh lawakan dari MC yang begitu garing selama berjam-jam. padalah sebenarnya kontes menyanyi segmen acaranya tidak terlalu panjang. Seakan acara berubah seperti standup comedy tapi garing.



Ketiga, acara karma yang berisi konten mengenai ramalan-ramalan yang diberikan pada seseorang secara random, dikemas dengan tata panggung yang beda dari biasanya, tata cara pengambilan dan musik yang pakai terlalu mendramatisir seolah-olah membuat banyak penonton yang terpukau dan percaya akan acara tersebut. Padalah seperti yang kita tahu, acara ramalan ini belum tentu sepenuhnya benar.



Keempat, acara lawakan yang pada awalnya ditayangkan pada waktu menunggu berbuka puasa. Dikarenakan rating acaranya semakin naik, maka acara ini setiap hari ditayangkan. Acara ini ada berformat set lawakan yang mana lawakan nya itu bersifat murahan dan membawa hal pribadi keranah publik. dan acara ini ditayangkan secara live. walaupun sudah banyak dikecam oleh berbagai pihak tetapi acara ini masih berjalan seperti biasa.


Kemudian acara joged-joged dan lawakan-lawakan yang sifatnya mencela secara live dan ditayangkan dalam waktu yang lama.

Pro dan kontra dengan acara ini bermunculan. Dimana acara ini dinilai tidak mendidik dan berakibat buruk jika dikonsumsi oleh anak dibawah umur. Pada akhirnya, di suatu episode, ada segmen yang mana melakukan hipnotis seorang pemandu acara tersebut yang mengucapkan kata-kata yang kurang baik pada seorang icon daerah, yang mana masyarakat banyak tidak terima akan hal itu, dan meminta untuk memberhentikan acara tersebut. Akan tetapi, pihak televisi tidak diam begitu saja, mereka terus berfikir, dan kemudian mereka merombak semua format acara yang menyebabkan rating dan share terjun bebas, dan pada akhir acara tidak tayang kembali.


Pada akhirnya televisi tidak bisa dipersalahkan sendirian, karena mereka juga mencari uang demi iklan. Mereka tidak mementingkan kualitas karena pasar itu sendiri. Pasar yang mengendalikan itu semua. Jika tidak bisa mengikuti apa maunya pasar maka sponsor atau iklan tidak akan mau masuk. Untuk para orang tua, seharusnya membimbing anaknya untuk tidak terlalu lama menonton televisi. sebaiknya orang tua memberikan kesibukan yang memiliki bobot manfaat yang tinggi.

Sumber :

https://youtu.be/wi7epLyYGtI

tanggal akses 09 September 2018

4 comments:

  1. betul bgt, saat ini banyak televisi yg cm mengejar rate, ttp kwalitas NOL, jadi aku akhir2 ini lebih suka nonton berita

    ReplyDelete
    Replies
    1. Acara berita juga kebanyakan berat sebelah, jarang ada tipi yg beritain berimbang

      Delete
  2. Acara TV dirancang untuk memenuhi permintaan penonton alias pasar. Jika ingin melihat acara yang lebih bermanfaat, penonton seharusnya bisa mengambil sikap.

    ReplyDelete
  3. Saya sudah stop melihat tayangan unfaedah di tivi-tivi lokal. Payah edukasinya. Malas.

    Salam,
    jelajahlangkah.com

    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...